01/11/24

Inovatif! Limbah Masker Sekali Pakai Bisa Disulap Jadi Rupiah

#LiterasiBertransformasi-
Setelah melalui tahun-tahun dimana pandemi Covid-19 merebak, rasa-rasanya masyarakat kita sudah sangat familiar dengan yang namanya masker. Benda yang dulunya hanya digunakan oleh tenaga medis, kini sudah semakin akrab di masyarakat kita. Hampir semua orang pernah atau bahkan menyimpan masker sekali pakai untuk dirinya sendiri.

Masker juga tak pandang usia dan status sosial, mulai dari usia anak-anak, remaja, hingga orang dewasa semua bebas menggunakan masker sesering dan sesuka hati. Namun pernahkah kita terpikir, kemana perginya sampah atau limbah dari masker sekali pakai yang kita gunakan itu? Pernahkah kita terpikir selembar masker yang sudah tak terpakai itu, dapat menjadi rupiah yang menopang ekonomi masyarakat? Nah, ternyata ada lho seorang pria bernama Imam Teguh Islamy yang terpikir dan berhasil melakukan ide inovatif itu bersama teman-temannya. Gimana ceritanya? Mari kita bahas satu per satu!
 
Sorotan tentang Problem Sampah di Indonesia
 
Persoalan sampah selalu jadi topik hangat dunia. Terlebih sampah / limbah medis yang ada di Indonesia. Berdasarkan Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2022 hasil input dari 202 kab/kota se-Indonesia menyebut jumlah timbunan sampah nasional mencapai angka 21.1 juta ton. Dari total produksi sampah nasional tersebut, 65.71% (13.9 juta ton) dapat terkelola, sedangkan sisanya 34,29% (7,2 juta ton) belum terkelola dengan baik.
 
Pengelolaan sampah baik dari pihak pemerintah pusat dan daerah sangat penting, namun tetap harus diiringi kesadaran kolektif dan keterlibatan masyarakat. Terlebih untuk sampah berupa limbah medis seperti masker sekali pakai. Menurut Suherman, Ph.D. pakar lingkungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebutkan, “Karakteristik masker yang terbuat dari bahan utama fiber atau kertas membuat pelindung mulut itu harus segera dibuang setelah digunakan," katanya dalam artikel yang diunggah di laman Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM.
 
Karena itu, dapat kita bayangkan ada berapa juta sampah masker sekali pakai yang sudah terbuang di lingkungan sekitar kita. Dimulai sejak awal tahun-tahun pandemi hingga saat ini, apalagi jika mempertimbangkan 270 juta penduduk Indonesia. Maka akan banyak sekali masker-masker berserakan dalam setiap tumpukan sampah. Dilansir dari Liputan6.com, riset University of Southern Denmark pada Maret 2021 menyebutkan, tiga juta masker sekali pakai dibuang manusia di seluruh dunia setiap menitnya. Dimana mayoritas masker sekali pakai ini berbahan plastik mikrofiber.
 
Imam Teguh Islamy - Pemenang SATU Indonesia Awards 2023 dari Yogyakarta
 
Permasalahan limbah masker sekali pakai yang cukup pelik ini, ternyata malah jadi peluang di mata Imam Teguh slamy dan kelompoknya. Terbukti dalam gagasannya yang berjudul "Pemanfaatan Sampah Masker Sekali Pakai sebagai Material Alternatif Pembuatan Furniture", kelompoknya berhasil menyabet juara dari ASTRA tingkat nasional dalam bidang lingkungan. Terpilih mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta, Imam dan teman-tamannya berhasil mengolah limbah menjadi rupiah yang bernilai ekonomi tinggi dan berdampak bagi masyarakat.
 
Pemanfaatan limbah masker menjadi material alternatif pembuatan furniture ini tentunya tidak mudah, mengingat masker sekali pakai termasuk dalam limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Pastinya jika salah mengelola dapat membahayakan lingkungan. Dua teknik yang dapat dilakukan untuk mengolah limbah masker, diantaranya dapat dilarutkan dengan limbah hidrotermal terlebih dahulu, kemudian dibentuk kembali menjadi bahan baru yang tahan lama. Selain itu dapat juga menggantikan pasir dalam beton. Setelah dilakukan proses penguraian, material hasil daur ulang masker sekali pakai bisa menggantikan pasir dalam material beton yang biasanya digunakan untuk campuran bahan bangunan.
 
Imam Teguh Islamy merupakan Founder & Direktur Naima Sustainability. Perusahaan startup yang bergerak di bidang ESG dan sustainability. Dia mengembangkan sistem digital yang mendukung implementasi ESG bagi perusahaan dan bisnis. Latar belakang pendidikannya sebagai Magister Administrasi Bisnis, Institut Teknologi Bandung.
 
Menarik sekali ya apa yang dikerjakan Imam dan kelompoknya. Semoga bisa menjadi usaha yang berkelanjutan dan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Tentunya lingkungan bersih, sampah terkendali, dompet pun berisi! Amin.
 
Referensi :

https://www.kemenkopmk.go.id/72-juta-ton-sampah-di-indonesia-belum-terkelola-dengan-baik -diakses pada 1 November 2024

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4724886/jangan-dibuang-kirim-sampah-masker-sekali-pakai-anda-untuk-didaur-ulang-jadi-furnitur-cantik?page=4 -diakses pada 1 November 2024https://lem.fkt.ugm.ac.id/2021/03/problematika-limbah-masker-saat-pandemi/ -diakses pada 1 November 2024

https://radarmalang.jawapos.com/lifestyle/811071147/oppa-ini-sulap-masker-bekas-jadi-kursi-aesthetic -diakses pada 1 November 2024

https://www.instagram.com/imamteguhislamy/

BERMULA DARI SINI!

#LiterasiBertransformasi-Seperti ucapan para petugas di SPBU itu! Kita mulai dari NOL ya?

Entah kegilaan apa yang membuat saya jenuh dan akhirnya mengosongkan semua entri di blog ini yang terhitung posting sejak 2009.

Satu hari terakhir di bulan Juni yang menyesakkan, akhirnya berbalas dengan satu postingan ini.

Semoga ke depan bakal lebih banyak tulisan yang tumbuh di sini. Amin